Disclosure dan Internet Financial Reporting, ke Brunei sampe Brisbane

Disclosure dan Internet Financial Reporting, ke Brunei sampe Brisbane

Posted on

Nggak tahu, sebenarnya ikut seminar atau jalan-jalan. Seringnya kan gitu, diundang seminar tapi acaranya banyak jjs (jalan-jalan santai) kata Ika gitu. Bulan kemaren (7-9 Januari) saya dengan beberapa temen dari STIE Perbanas Surabaya presentasi di Universiti Brunai Darussalam . Saya sih presentasi penelitian bareng sama Luciana Spica , topiknya tentang Internet Financial Reporting. Topik yang sebenarnya sudah jadul klo di Amrik. Tapi riset saya yang pengen tahu tentang Internet Financial Reporting membawa saya jalan-jalan sampai ke Queensland University of Technology di Brisbane Australia . Hmmm asyik juga.

Teknologi internet berkembang sangat pesat, dengan internet kita bias menaruh informasi apa saja didalamnya. Baik berupa teks, gambar maupun video. Akuntansi juga bias memanfaatkan internet. Baik sebagai system untuk transaksi atau pelaporan informasi keuangan. Internet Financial Reporting, atau pelaporan informasi keuangan melalui internet menjadi trend penting seiring dengan perkembangan teknologi internet. Perusahaan dapat menaruh informasi keuangannya melalui media internet dengan jangkauan audiens yang lebih luas dan mendunia, lebih cepat dan lebih murah.

Laporan keuangan yang biasanya dicetak, melalui internet pengguna laporan keuangan bisa mendistribusikannya lebih cepat (aspek timeliness), akses lebih mudah. Artinya dengan media internet perusahaan mampu mengeksploitasi kegunaan teknologi ini untuk lebih membuka diri dengan menginformasikan laporan keuangannya (aspek disclosure).

Namun ternyata dalam prakteknya, di Indonesia belum banyak perusahaan yang memanfaatkan teknologi ini. Hasilnya cukup mengejutkan juga. Saya observasi situs-situs bank pada bulan September-Oktober 2007, yang diobservasi adalah bank-bank yang listing di BEJ. Hasilnya, saya kaget juga, ternyata dari 23 bank yang terdaftar di BEJ (berarti bank yang go publik) ternyata 4 bank malah nggak punya website (duh kasihan banget ya). Jadi beberapa bank yang sudah go publik pun ternyata ada yang blom punya website sendiri.

Penelitian lebih lanjut saya adalah mengenai Sustainability Reporting atawa yang lebih trend dengan CSR (Corporate Social Responsibility). Hasilnya sama. Perusahaan tidak secara optimal memanfatkan teknologi internet dalam pelaporannya. Banyak perusahaan hanya melakukan konversi dari laporan paper-based nya yang tradisional di-convert langsung ke pdf dan kemudian di-upload ke websitenya. Sedikit sekali yang menggunakan teknik-teknik yang sebenarnya mudah dan gampang lewat link dan hyperlink di laporan keuangan internetnya.

Bayangan saya, adalah bagaimana membuat Laporan Keuangan di internet mulai dari Neraca yang kemudian tiap akun-akunnya bisa di-link langsung ke Catatan Atas laporan Keuangan, Pernyataan dari Manajemen dan sebagainya. Atau juga bisa ditambahkan presentasi lain seperti video dsb. Hmmm. Masih jauh ya?

Ada contoh sebuah situs, yang bisa menampilkan model ‘what-if’, jadi misalkan pengguna laporan keuangan di internet tersebut menambahkan perkiraan berapa perubahan yang terjadi jika melakukan perkiraan penjualan naik 10%, kemudian situsnya menghitung sendiri dan semua informasi yang terkait – sampai ke Earning Per Share nya langsung bisa dihitung dan ditampilkan segera. Hmmmm bagus bangettt.. Coba lihat situs ini…

Setiap tahun IRGlobalRankings.COM memberikan award untuk perusahan-perusahaan yang membuat website kelas dunia dalam menampilkan Investor-Relation mereka. Atau model yang digunakan oleh JungleRating.COM untuk melaporkan Sustainability award dalam pelaporan CSR perusahaan di website mereka.

Saya sendiri sih bukan orang yang ahli komputer, tapi saya yakin sebenarnya mudah membuat website menjadi sebuah media pelaporan akuntansi dan sustainability reporting. Jadi kalo sebuah perusahaan yang sudah go-publik tapi belum punya website… hmmm kacian deh loe….

Berapa sih kalo buat situs website itu?

Beli nama domain (nama website) per tahun US$15, trus sewa hosting (sewa hardisk di internet) per tahun US$50. Disitu biasanya ada yang auto install untuk macam-macam halaman-halaman web, jadi per tahun sebenarnya cumin modal kurang dari US$100 udah punya situs sendiri loh… kayak theAkuntan.Com ini … hehehe.

Riset yang dipresentasikan di Uneversiti Brunei Darussalam dalam rangka International Conference on Business
and Management:  The Practice of Financial Disclosure on Corporate Website: Case Study in Indonesia

Satunya saya presentasikan pas acara Pasific Basin Finance Accounting and Management di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia : Exploring Financial and Sustainability Reporting on the Web in Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.