Akuntansi as a business language

Akuntansi as a business language

Posted on

Apakah akuntansi itu? Pertanyaan tersebut seringkali dimunculkan saat memberikan gambaran mengenai akuntansi kepada mahasiswa yang baru ikut matakuliah Akuntansi Pengantar. Senior saya yang Doktor lulusan Wollongong Dr. Tjiptohadi Sawarjuwono, sering bilang, jangan sibuk berdebat tentang definisi, karena definisi itu malah bisa memenjara diri kita. Wah jadi bingung juga. Dilain pihak pengen menjelaskan apa definisi akuntansi, tapi ntar malah takut definisi tersebut memenjara kita (bingung jadinya).

Akuntansi adalah bahasa bisnis.
Oooo jadi belajar akuntansi itu belajar bahasa ya?
Iya memang benar, akuntansi adalah bahasa bisnis. Dalam mempelajari sebuah bahasa kita harus tahu benar cara ngomongnya, siapa audiens-nya dan sebagainya. Gaya ngomong ke orang yang well-educated people tidak sama ngomong dengan tukang becak. Ngomong ke orang tua gaya bicaranya kadang nggak bisa dengan bahasa gaulnya anak muda.

Hmmm jadi akuntansi itu bahasa ya? Ya. Dalam berbahasa kita juga harus tahu kepada siapa kita ngomong atau audiensnya.
Dalam cara bicara atau ngomong Bahasa Jawa, ada yang namanya “kromo inggil“, ada “kromo madyo“, ada juga bahasa “ngoko” (meskipun saya sebagai orang Jawa asli kadang juga sudah nggak ‘ngeh’ dan malu klo berbahasa jawa ‘kromo inggil’ karena udah berbau suroboyoan hehehe.). Bahasa Jawa sebagai metafor disiplin akuntansi ‘as a business language’ sudah dideskripsikan jadi tulisan ilmiahnya Dr. Tjiptohadi Sawarjuwono senior saya itu. (Dulu saya nggak terpikirkan sama sekali bahwa kayak bahasa Jawa itu kok bisa jadi karangan ilmiah dan mengkaitkannya dengan akuntansi juga loh). Dia menulis tentang bagaimana ‘gaya’ bahasa Jawa dikomunikasikan dengan audiens yang berbeda-beda menggunakan bahasa ‘kromo inggil’ atau ‘ngoko tadi’. Akuntansi pun demikian pula, informasi keuangan disampaikan kepada banyak audiens pemakai laporan keuangan yang berbeda-beda pula, sehingga kadang muncul berbagai informasi akuntansi dengan bentuk yang berbeda-beda pula.

Tapi sebagai sebuah bahasa, seperti bahasa indonesia, bahasa juga bisa jadi alat politik dan berpolitik.(Nah lu!!).
Contohnya adalah Harga “disesuaikan” itu sama dengan harga naik, dan banyak lagi idiom-idiom bahasa yang canggih keluar dari mulut para politisi atau pemipmin negeri ini (Yang kadang kuping jadi risih dengernya hehehehe).
Contoh lainnya adalah mengenai istilah dalam kaitannya korupsi yaitu apa sih definisi ‘kerugian negara’? Dengan istilah tersebut, banyak orang membela diri dari korupsi dengan penafsiran “kerugian negara” yang lucu-lucu. Contohnya adalah jika anda korupsi uang 100 Milyar rupiah, terus ketahuan (yang ketahuan biasanya cuman 5%nya) dan kemudian anda mengembalikan uang tersebut, maka tidak ada yang namanya kerugian negara. hehehe nggak lucu ya…

Kembali ke laptop … eh ke akuntansi.
Sama saja, akuntansi sebagai bahasa juga seringkali dipelintir cara ngomongnya. (Karena pinternya yang melintir atau karena auditor yang meriksa pura2 bloon nggak tahu bahwa itu dipelintir yah?) Maka muncullah istilah “earning management”, “income smoothing”, dan lain-lainnya…

Hmmmm.. Accounting is Magic! kata senior saya itu lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.